Blog kafir itu dengan beraninya mengatakan : Kalian tahu siapa Allah itu sebelumnya? Allah sebenarnya adalah pemimpin dari 360 dewa Kabah

BANTAHAN :

Ketahuilah, Antara nabi Adam dan Nabi Nuh terdapat 10 generasi yang seluruhnya berada diatas Islam. mereka hanya beribadah kepada Alloh saja. Namun kemudian muncul sikap berlebihan terhadap orang sholeh. 

Dan penyimpangan pertama yang terjadi adalah GHULUW (Sikap berlebih-lebihan) dalam soal pengagungan terhadap orang-orang shaleh,bahkan mengangkat mereka menjadi tuhan yang disembah.Dalam Shahih Bukhari (8/535,Fathul Bari) dari Ibnu Abbas dalam menafsirkan firman Allah ,artinya:

Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr“. (Surat Nuh:23)

(Ibnu Abbas) radhiallahu anhu berkata:”Ini adalah nama orang-orang shaleh dari kaum Nuh.Takkala mereka meninggal dunia ,setan membisikkan kepada kaumnya agar mereka membangun patung-patung (peringatan) ditempat pertemuan mereka,dan menamai patung-patung itu sesuai dengan nama-nama mereka,lalu mereka melakukannya.Namun ketika itu mereka masih belum disembah sampai setelah para pembangun patung-patung itu meninggal dunia dan beralih generasi (serta ilmu telah hilang dari kalangan mereka) ,patung-patung itu lalu (mulai) disembah.

demikian juga Latta, Uzza dan berhala yang dulu ada di sekitar ka’bah adalah nama-nama orang sholeh yang hidup lebih dulu. kemudian manusia berlebihan dalm menghormatinya, kemudian dibangunlah berhala yang diberi nama sesuai dengan nama orang sholih tsb. pada awalnya berhala tsb tidak disembah, namun beralih generasi akhirnya berhala tersebut disembah juga.

Mujahid mengatakan: “Al-Lat adalah orang yang dahulunya mengadukkan tepung (dengan air atau minyak) untuk para jemaah haji. Setelah meninggal, merekapun senantiasa mendatangi kuburannya.”

Demikian pula tafsiran Ibnu ‘Abbas sebagaimana dituturkan oleh Abul Jauza’: “Dia itu pada mulanya adalah orang yang mengadukkan tepung untuk para jemaah haji.”

Maka Islam datang dan meluruskan akidah mereka, agar kembali menyembah hanya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala saja.

Memang arab badui telah lama mengenal Alloh Azza Wa Jalla karena mereka masih memiliki sisa-sisa ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. maka Nabi Muhhammad salallahu ‘alaihi wasalam datang untuk memurnikan kembali Agama Nabi Ibrahim ‘alaihis salam

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67)”

“Sesungguhnya orang yang paling berhak terhadap Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini, beserta orang-orang yang beriman, dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 6)”

KA’BAH DAN HAJAR ASWAD

UMAT MUSLIM TIDAKLAH MENYEMBAH KA’BAH / HAJAR ASWAD.

Ka’bah hanyalah sebagi kiblat umat muslim dlam beribadah. dahulu umat muslim pernah berkiblat ke masjid Al-Aq’sa, kemudian turun perintah untuk memalingkan kiblat ke ka’bah. Sedangkan hajar aswad adalah batu yang berada di salah satu bagian ka’bah.

Mencium hajar aswad bukan berarti menyembah kepada hajar aswad. hal itu dilakukan semata-mata mengikuti praktek ibadah (sunnah) NAbi salallahu ‘alaihi wa salam.

Dalam salah satu riwayat Bukhari-Muslim, diterangkan bahwa Sayyidina Umar, sebelum mencium Hajar Aswad mengatakan, “Demi Allah, aku tahu bahwa kau adalah sebuah batu yang tidak dapat berbuat apa-apa.Kalau aku tidak melihat Rasul SAW mencium-mu, tidak akan aku mencium-mu:.

DIMANAKAH ALLOH SUBHANAHU WA TA’ALA ?

bila kita bertanya kepada saudara kita ; Dimana Allah ? Kita akan mendapat dua jawaban yang bathil bahkan sebagiannya kufur..! :

  1. Allah ada pada diri kita ini ..!
  2. Allah dimana-mana di segala tempat !

Jawaban yang pertama berasal dari kaum wihdatul wujud (kesatuan wujud Allah dengan manusia) yang telah dikafirkan oleh para Ulama kita yang dahulu dan sekarang. Sedangkan jawaban yang kedua keluar dari kaum Jahmiyyah (faham yang menghilangkan sifat-sifat Allah) dan Mu’tazilah, serta mereka yang sefaham dengan keduanya dari ahlul bid’ah.

Rasulullah SAW pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang budak perempuan milik Mua’wiyah bin Al-Hakam As-Sulamy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya yaitu Mu’awiyah :
Artinya :
“Beliau bertanya kepadanya : “Di manakah Allah ?. Jawab budak perempuan : “Di atas langit. Beliau bertanya (lagi) : “Siapakah Aku ..?”. Jawab budak itu : “Engkau adalah Rasulullah”. Beliau bersabda : “Merdekakan ia ! .. karena sesungguhnya ia mu’minah (seorang perempuan yang beriman)”.

Hadits shahih. Dikeluarkan oleh Jama’ah ahli hadits, diantaranya :

  1. Imam Malik (Tanwirul Hawaalik syarah Al-Muwath-tho juz 3 halaman 5-6).
  2. Imam Muslim (2/70-71)
  3. Imam Abu Dawud (No. 930-931)
  4. Imam Nasa’i (3/13-14)
  5. Imam Ahmad (5/447, 448-449)
  6. Imam Daarimi 91/353-354)
  7. Ath-Thayaalis di Musnadnya (No. 1105)
  8. Imam Ibnul Jaarud di Kitabnya “Al-Muntaqa” (No. 212)
  9. Imam Baihaqy di Kitabnya “Sunanul Kubra” (2/249-250)
  10. Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para Imam- di Kitabnya “Tauhid” (hal. 121-122)
  11. Imam Ibnu Abi ‘Aashim di Kitab As-Sunnah (No. 489 di takhrij oleh ahli hadits besar Muhammad Nashiruddin Al-Albani).
  12. Imam Utsman bin Sa’id Ad-Daarimi di Kitabnya “Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyyah” (No. 60,61,62 halaman 38-39 cetakan darus Salafiyah).
  13. Imam Al-Laalikai di Kitabnya “As-Sunnah ” (No. 652).

PEMBAHASAN

Pertama
Hadist ini merupakan cemeti dan petir yang menyambar di kepala dan telinga ahlul bid’ah dari kaum Jahmiyyah dan Mu’tazilah dan yang sefaham dengan mereka, yaitu ; dari kaum yang menyandarkan aqidah mereka kepada Imam Abul Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ary, yaitu ; mereka mempunyai i’tiqad (berpendapat) :

“ALLAH BERADA DI TIAP-TIAP TEMPAT ATAU ALLAH BERADA DIMANA-MANA .!?”

Katakanlah kepada mereka : Jika demikian, yakni Allah berada dimana-mana tempat, maka Allah berada di jalan-jalan, di pasar-pasar, di tempat kotor dan berada di bawah mahluknya !?.

Jawablah kepada mereka dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla :
Artinya :
“Maha suci Engkau ! ini adalah satu dusta yang sangat besar” (An-Nur : 16)
“Maha suci Allah dari apa-apa yang mereka sifatkan ” (Al-Mu’minun : 91)
“Maha Suci Dia ! Dan Maha Tinggi dari apa-apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang besar”. (Al-Isra : 43)

Berkata Imam Adz-Dzahabi setelah membawakan hadits ini, di kitabnya “Al-Uluw” (hal : 81 diringkas oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani).
Artinya :
“Dan demikian ra’yu kami (setuju dengan hadits) setiap orang yang ditanya : “Dimana Allah ? “Dia segera dengan fitrahnya menjawab : Di atas langit !. Didalam hadits ini ada dua masalah : pertama : Disyariatkan pertanyaan seorang muslim : Dimana Allah ?. Kedua : Jawaban orang yang ditanya : (Allah) di atas langit ! Maka barangsiapa yang mengingkari dua masalah ini berarti ia telah mengingkari Al-Musthafa (Nabi) SAW”.

Dan telah berkata Imam Ad-Daarimi setelah membawakan hadits ini di kitabnya “Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyah (hal: 39): “Di dalam hadits Rasulullah SAW ini, ada dalil bahwa seseorang apabila tidak mengetahui sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berada di atas langit bukan bumi, tidaklah ia seorang mu’min”.

Tidaklah engkau perhatikan bahwa Rasulullah SAW telah menjadikan tanda/alamat keimanannya (yaitu budak perempuan) tentang pengetahuannya sesungguhnya Allah di atas langit. Dan pada pertanyaan Rasulullah SAW (kepada budak perempuan): “Dimana Allah ?”. Mendustakan perkataan orang yang mengatakan : “Dia (Allah) ada di tiap-tiap tempat (dan) tidak boleh disifatkan dengan (pertanyaan) : Dimana .?

Kedua
Lafadz ‘As-Samaa” menurut lughoh/bahasa Arab artinya : Setiap yang tinggi dan berada di atas. Berkata Az-Zujaaj (seorang Imam ahli bahasa) :
Artinya :
“(Lafadz) As-Samaa/langit di dalam bahasa dikatakan : Bagi tiap-tiap yang tinggi dan berada di atas. Dikatakan : atap rumah langit-langit rumah”.

Dinamakan “Awan” itu langit/As-Samaa, karena ia berada di atas manusia. Firman Allah ‘Azza wa Jalla.
Artinya :
“Dan Ia turunkan dari langit Air (hujan)” (Al-Baqarah : 22).

Adapun huruf “Fii” dalam lafadz hadits “Fiis-Samaa” bermakna ” ‘Alaa” seperti firman Allah ‘Azza wa Jalla :
Artinya :
“Maka berjalanlah kamu di atas/di muka bumi” (At-Taubah : 2)
“Mereka tersesat di muka bumi” (Al-Maa’idah : 26)

Lafadz “Fil Arldhii” dalam dua ayat diatas maknanya ” ‘Alal Arldhii”, Maksudnya : Allah ‘Azza wa Jalla berada di pihak/di arah yang tinggi -di atas langit- yakni di atas ‘Arsy-Nya yang sesuai dengan kebesaran-Nya. Ia tidak serupa dengan satupun mahluk-Nya dan tidak satupun mahluk menyerupai-Nya.

Firman Allah ‘Azza wa Jalla :
Artinya :
“Tidak ada sesuatupun yang sama dengan-Nya, dan Ia-lah yang Maha Mendengar (dan) Maha Melihat”. (As-Syura : 4)
“Dan tidak ada satupun yang sama/sebanding dengan-Nya” (Al-Ikhlas : 4)
“Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istiwaa (bersemayam)”. (Thaha : 5)
“Sesungguhnya Tuhan kamu itu Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian ia istiwaa (bersemayam) di atas ‘Arsy”.(Al-A’raf :54).

Madzhab Salaf -dan yang mengikuti mereka- seperti Imam yang empat : Abu Hanifah, Malik, Syafi’iy dan Ahmad bin Hambal dan lain-lain Ulama termasuk Imam Abul Hasan Al-Asy’ari sendiri, mereka semuanya beriman bahwa ; Allah ‘Azza wa Jalla ISTIWAA diatas ‘Arsy-Nya sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.

Mereka tidak menta’wil ISTIWAA/ISTAWAA dengan ISTAWLA yang artinya : Berkuasa. Seperti halnya kaum Jahmiyyah dan yang sefaham dengan mereka yang mengatakan “Allah istiwaa di atas ‘Arsy” itu maknanya : Allah menguasai ‘Arsy !. Bukan Dzat Allah berada di atas langit yakni di atas ‘Arsy-Nya, karena Allah berada dimana-mana tempat !?… Mereka ini telah merubah perkataan dari tempatnya dan telah mengganti perkataan yang tidak pernah dikatakan Allah kepada mereka sama seperti kaum Yahudi (baca surat Al-Baqarah : 58-59).

Katakan kepada mereka : Kalau makna istiwaa itu adalah istawla/berkuasa, maka Allah ‘Azza wa Jalla berkuasa atas segala sesuatu bukan hanya menguasai ‘Arsy. Ia menguasai langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya dan sekalian mahluk (selain Allah dinamakan mahluk). Allah ‘Azza wa Jalla telah mengabarkan tentang istawaa-Nya diatas ‘Arsy-Nya dalam tujuh tempat di dalam kitab-Nya Al-Qur’an. Dan semuanya dengan lafadz “istawaa”. Ini menjadi dalil yang sangat besar bahwa yang dikehendaki dengan istawaa ialah secara hakekat, bukan “istawla” dengan jalan menta’wilnya.

Telah berfirman Allah ‘Azza wa Jalla di Muhkam Tanzil-Nya.
Artinya :
“Ar-Rahman di atas ‘Arsy Ia istawaa” (Thaha : 5)
“Kemudian Ia istawaa (bersemayam) di atas ‘Arsy”.

Pada enam tempat. Ia berfirman di kitab-Nya yaitu :

  1. Surat Al-A’raf ayat 54
  2. Surat Yunus ayat 3
  3. Surat Ar-Ra’du ayat 2
  4. Surat Al-Furqaan ayat 59
  5. Surat As-Sajdah ayat 4
  6. Surat Al-Hadid ayat 4

Menurut lughoh/bahasa, apabila fi’il istiwaa dimuta’adikan oleh huruf ‘Ala, tidak dapat dipahami/diartikan lain kecuali berada diatasnya.
Firman Allah ‘Azza wa Jalla :
Artinya :
“Dan berhentilah kapal (Nuh) di atas gunung/bukit Judi” (Hud : 44).

Di ayat ini fi’il “istawaa” dimuta’addikan oleh huruf ‘Ala yang tidak dapat dipahami dan diartikan kecuali kapal Nabi Nuh AS secara hakekat betul-betul berlabuh/berhenti di atas gunung Judi. Dapatkah kita artikan bahwa “Kapal Nabi Nuh menguasai gunung Judi” yakni menta’wil lafadz “istawat” dengan lafadz “istawlat” yang berada di tempat yang lain bukan di atas gunung Judi..?

KEAGUNGAN ALLOH AZZA WA JALLA

*) Dalam bab terakhir ini, penulis menyebutkan beberapa dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan keagungan dan kekuasaan Allah Ta’ala, dengan maksud untuk menunjukkan bahwa hanya Allah saja Tuhan yang berhak dengan segala macam ibadah yang dilakukan manusia dan hanya milik Allah segala sifat kesempurnaan dan kemuliaan.

Firman Allah Ta’ala (artinya):

“Dan mereka (orang-orang musyrik) tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenar-benarnya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat, dan semua langit digulung dengan Tangan Kanan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Allah dari segala perbuatan syirik mereka.” (Az-Zumar: 67)

‘Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu menuturkan: “Salah seorang pendeta Yahudi datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan berkata:

“Wahai Muhammad! Sesungguhnya kami menjumpai (dalam kitab suci kami) bahwa Allah akan meletakkan langit di atas satu jari, pohon-pohon di atas satu jari, air di atas satu jari, tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari, maka Allah berfirman: “Aku-lah Penguasa.” Tatkala mendengarnya, tersenyumlah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sehingga tampak gigi-gigi beliau, karena membenarkan ucapan pendeta Yahudi itu; kemudian beliau membacakan firman Allah:

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenar-benarnya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat…” dst.

Disebutkan dalam riwayat lain oleh Muslim:

“…gunung-gunung dan pohon-pohon di atas satu jari, kemudian digoncangkan-Nya dan berfirman: “Aku-lah Penguasa, Aku-lah Allah”.”

Dan disebutkan dalam riwayat lain oleh Al-Bukhari:

“…meletakkan semua langit di atas satu jari, serta tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari…” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Muslim meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Allah akan menggulung seluruh lapisan langit pada hari kiamat lalu diambil dengan Tangan Kanan-Nya, dan berfirman: Aku-lah Penguasa; mana orang-orang yang berlaku lalim, mana orang-orang yang berlaku sombong?” Kemudian Allah menggulung ketujuh lapis bumi, lalu diambil dengan Tangan Kiri-Nya dan berfirman: “Aku-lah Penguasa; mana orang-orang yang berlaku lalim, mana orang-orang yang berlaku sombong?”.”

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

“Langit tujuh dan bumi tujuh di Telapak Tangan Allah Ar-Rahman, tiada lain hanyalah bagaikan sebutir biji sawi yang diletakkan di tangan seseorang di antara kamu.”

Ibnu Jarir berkata: “Yunus menuturkan kepadaku, dari Ibnu Wahb, dari Ibnu Zaid, dari bapaknya (Zaid bin Aslam), ia menuturkan: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Ketujuh langit berada di Kursi, tiada lain hanyalah bagaikan tujuh keping dirham yang diletakkan di atas perisai.”

Ibnu Jarir berkata pula: “Dan Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu menuturkan: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Kursi itu berada di ‘Arsy, tiada lain hanyalah bagaikan sebuah gelang besi yang dicampakkan di tengah padang pasir.”

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa ia menuturkan:

“Antara langit yang paling bawah dengan langit berikutnya jaraknya 500 tahun, dan diantara setiap langit jaraknya 500 tahun; antara langit yang ketujuh dengan kursi jaraknya 500 tahun; dan antara kursi dan samudra air jaraknya 500 tahun; sedang ‘Arsy berada di atas samudra air itu; dan Allah berada di atas ‘Arsy tersebut, tidak tersembunyi bagi Allah sesuatu apapun dari perbuatan kamu sekalian.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Mahdi dari Hamad bin Salamah, dari ‘Ashim, dari Zirr, dari ‘Abdullah ibnu Mas’ud)

Dan diriwayatkan dengan lafadz seperti ini oleh Al-Mas’udi dari ‘Ashim dari Abu Wa’il dari ‘Abdullah, demikian dinyatakan Adz-Dzahaby Rahimahullah Ta’ala; lalu katanya: “Atsar tersebut diriwayatkan melalui beberapa jalan.”

Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib Radhiyallahu ‘anhu menuturkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Tahukah kamu sekalian berapa jarak antara langit dengan bumi?” Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Antara langit dan bumi jaraknya perjalanan 500 tahun, dan antara satu langit ke langit lainnya jaraknya perjalanan 500 tahun, sedang ketebalan masing-masing langit adalah perjalanan 500 tahun. Antara langit yang ketujuh dengan ‘Arsy ada samudra, dan antara dasar samudra itu dengan permukaannya seperti jarak antara langit dengan bumi. Allah Ta’ala di atas itu semua dan tidak tersembunyi bagi-Nya sesuatu apapun dari perbuatan anak keturunan Adam.” (HR Abu Dawud dan Ahli Hadits lainnya)

Kandungan tulisan ini:

  1. Tafsiran ayat tersebut di atas. Ayat ini menunjukkan keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala dan kecilnya seluruh makhluk dibandingkan dengan-Nya; menunjukkan pula bahwa siapa yang berbuat syirik, berarti tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenar-benarnya.
  2. Pengetahuan-pengetahuan tentang sifat Allah Ta’ala, sebagaimana terkandung dalam hadits pertama, masih dikenal di kalangan orang-orang Yahudi yang hidup pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka tidak mengingkarinya dan tidak menafsirkannya dengan tafsiran yang menyimpang dari kebenaran.
  3. Ketika pendeta Yahudi itu menyebutkan pengetahuan tersebut kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau membenarkannya dan turunlah ayat Al-Qur’an menegaskannya.
  4. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tersenyum tatkala mendengar pengetahuan yang agung ini disebutkan oleh pendeta Yahudi.
  5. Disebutkan dengan tegas dalam hadits adanya dua tangan bagi Allah, dan bahwa seluruh langit diletakkan di tangan kanan dan seluruh bumi diletakkan di tangan yang lain pada hari Kiamat nanti.
  6. Dinyatakan dalam hadits bahwa tangan yang lain itu disebut tangan kiri.
  7. Disebutkan keadaan orang-orang yang berlaku lalim dan berlaku sombong pada hari Kiamat.
  8. Dijelaskan bahwa seluruh langit dan bumi di telapak tangan Allah bagaikan sebutir biji sawi yang diletakkan di telapak tangan seseorang.
  9. Besarnya (luasnya) kursi dibanding dengan langit.
  10. Besarnya (luasnya) ‘Arsy dibandingkan dengan kursi.
  11. ‘Arsy bukanlah kursi, dan bukanlah samudra.
  12. Jarak antara langit yang satu dengan langit yang lain perjalanan 500 tahun.
  13. Jarak antara langit yang ke tujuh dengan kursi perjalanan 500 tahun.
  14. Dan jarak antara kursi dengan samudra perjalanan 500 tahun.
  15. ‘Arsy, sebagaimana dinyatakan dalam hadits, berada di atas samudra tersebut.
  16. Allah ‘Azza wa Jalla berada di atas ‘Arsy.
  17. Jarak antara langit dan bumi ini perjalanan 500 tahun.
  18. Masing-masing langit tebalnya perjalanan 500 tahun.
  19. Samudra yang berada di atas seluruh langit itu, antara dasar dan permukaannya, jauhnya perjalanan 500 tahun. Dan hanya Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui.

Segala puji hanya milik Allah Rabb sekalian alam. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan Allah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, kepada keluarga dan para sahabatnya.

Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.